Bukan karena perkuliahan, tapi lingkungan
Postingan ini muncul saat aku mengerjakan tugas Sistem Informasi. Waktu itu posisinya aku sedang bertanya ke Jeruk07 soal tugas matkul SI. Meski tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, sedikit terlintas di benakku. Sekilas pertanyaan “Kok bisa ya, aku sampe ga tau materi apa aja setelah MID”. Itu bukan pertanyaan yang sulit dijawab, kawan. Lha wong bisa dihitung kok pake jari ayam berapa kali G.P (Gusti Pangeran) Daliyo berkhutbah jumat. Meski 4x lebih lama dari khutbah jumat untungnya fatwa “dilarang berbicara selama khutbah berlangsung” tidak berlaku di kelas. Alhasil, 2 jam bukanlah waktu yang cukup lama bagi para peserta kuliah tidur siang ini melewatkan hari-harinya dengan canda tawa riang gembira.
Melihat fakta semakin sedikitnya jadwal manggung Bpk. Gusti Pangeran Daliyo usai MID, memang cukup ironis. Bagaimana tidak, kami sebagai mahasiswanya akhirnya yang jadi korban betapa waktu itu dibuang percuma. Padahal masih banyak kegiatan bermanfaat lainnya yang bisa dikerjakan, semisal tidur siang, main PES, ngettack di KFC atau kebiasaan lumrah mahasiswa lainnya.
Ingat kawan, itu baru sedikit dari beberapa kisah memilukan dosen-dosen kami yang tega menelantarkan garda depan cendekia bangsa untuk membiarkan kami menunggu..menunggu.. dan terus menunggu perkuliahan tanpa kejelasan. Coba simak Sistem Operasi yang semenjak awal perkuliahan terjadwal 3 jam, sampe sekarang cuma diakui pertemuan yang 2 jam, itu aja pake dateng telat dan selesainya lebih cepat. Simak lagi KSJ, TBO dan RPL yang sempat mogok diawal-awal MID. Wuih.. Kawan pasti sekarang sedang mencoba berhitung berapa waktu yang sudah Kawan buang. Dan lihatlah sekarang, Apa yang sampeyan dapat, hah? Ilmu yang sekedar mangkal/nge-tem beberapa bulan di memory otak, kemudian hilang di semester berikutnya?? Beeehhh…. Lalu bagaimana bisa dapat kerja mudah seandainya hanya ini yang kita dapat??
Makanya itu, aku jadi sangsi jika dikatakan “Lulusan Ilkomp tuh, paling lama nganggur cuma 3 bulan”. Jangan-jangan yang nganggur 3 bulan itu cuma diterima sebagai Cleaning Service (CS) karena terlalu stress sebagai sarjana S.Kom yang ga laku di mata perusahaan manapun. Kawan pasti tahu, saingan sarjana IT sudah semakin menjamur, dan denger-denger perusahaan sudah semakin selektif dalam menjaring pekerjaanya melalui test psikotes atau wawancara langsung, sehingga nama besar almamater universitas tidak lagi jadi jaminan seperti di era beberapa tahun silam.
Namun meski banyak kenyataan konyol di dalam pelaksanaan perkuliahan Ilkomp UGM, tetap saja kita masih menjadi momok nomor satu. Lah kok bisa? Ya ini sekedar pengamatanku aja sih. Sekedar pendapat, pemikiran ataupun analisis gila yang tak beralasan rasional. He..he.. semoga Kawan ga ikut-ikutan ga waras jika memahami hal kumaksud ini.
Jadi gini, dari tahun ke tahun kan UGM memang sudah punya nama besar, punya alumnus yang terbukti hebat, aliran dana pendidikan yang begitu besar meski sedikit megap-megap kalo bicara soal kualitas fasilitas. Tapi masyarakat masih memegang teguh pendiriannya, tentang elok nan rupawan kampus kita, harapan-harapan besar setelah masuk kesana, dan berbagai hal fatamorgana lainnya. Alhasil, ketika mulai masuk tahun ajaran baru, anak-anak SMA sederajat yang pintar, smart, good attitude and behavior masih tersihir akan kepercayaan lampau ini. Dan akhirnya, terpilihlah mahasiswa-mahasiswa pintar itu masuk ke kampus kita. Umumnya mereka adalah mahasiswa-mahasiswa smart yang secara utuh terdidik dengan sangat baik saat SMA.
Dengan masuknya mahasiswa smart ini mereka kembali berjuang lewat semangat Welcome to The Jungle nya GNR, dan mulai menyadari betapa tidak dijalankan dengan serius kurikulum disini. Namun disinilah uniknya, meski tidak berjalan dengan baik sistem perkuliahannya, namun hawa persaingan tetap terjaga. Jadi, diantara mahasiswa smart ini masih terjadi persaingan satu sama lain, yang memberikan mereka jalan menuju kesuksesannya sendiri melalui jalannya masing-masing. Sekali lagi, tidak karena sistem perkuliahan. Jadi semisal gini, siswa smart A pintar hal ABC. Maka karena smart B juga tak ingin kalah dia terbawa emosi persaingan sehingga berusaha untuk pintar hal ABC juga, atau terkadang karena saking smartnya, si smart B ini memilih jago di hal CBA yang mana subjek yang digelutinya ga kalah hebat dengan si smart A. Sehingga, smart B merasa berkompeten terhadap smart A meski mereka di minat yang berbeda. Hal ini menular ke beberapa teman-teman smart lainnya. Masing-masing mencari sesuatu yang bisa memberi mereka harapan sebagai mahasiswa yang dapat diperhitungkan di lingkungan tersebut. Akhirnya, sekumpulan mahasiswa ini mencapai kesuksesannya sendiri-sendiri, melalui caranya masing-masing namun lewat satu lingkungan yang kompeten, lingkungan terdidik yang berisikan anak-anak smart. Itulah sebabnya dengan pelaksanaan sistem perkuliahan yang bobrok ini, kita UGM masih bisa menjadi momok untuk menghasilkan lulusan-lulusan terbaik. Karena hanya orang pintar saja yang bisa mengembangkan kepintarannya hingga batas yang tak bisa ditentukan. Dan dengan terpilihnya Kawan sebagai mahasiswa UGM secara tidak langsung Kawan telah didaulat sebagai mahasiswa pintar yang tinggal meluluskan langkahnya melalui lingkungan yang ada disekitar Kawan.
Dan dari fakta ini, maka meski dengan kondisi perkuliahan yang memilukan kita tetap berhasil meluluskan alumnus hebat dan disegani. Yang pada akhirnya, mitos UGM menghasilkan lulusan kompeten dibidangnya berlanjut hingga sekarang.
Itulah sebabnya, ada baiknya kita sebagai mahasiswa smart yang terpilih dan dipercaya melakoni kehidupan kampus UGM tidak sekedar berfokus pada materi perkuliahan atau sekedar mengikuti kurikulum yang dibawakan dosen-dosen. Namun lebih dari itu, kita bisa belajar dari lingkungan sekitar. Melihat secara real terhadap hal yang terjadi di lingkungan kita itu, apalagi disekitar kita banyak mahasiswa-mahasiswa smart lainnya yang bisa menjadi referensi kita dalam belajar menapaki kesuksesan hidup yang diimpikan.
December 26th, 2008 at 3:05 am
Ilkomp..ilkomp.
Tapi kau yakin, kita masih bisa mengejar ketertinggalan. Harapan itu masih ada!!
hm… apa dosennya gak pernah berpikir ya tentang materi yang dia ajarkan itu sudah sesuai dengan kondisi sekarang atau belum. Apa dosennya tidak pernah berpikir ketika dia tidak masuk dia bukan hanya absen dari perkuliahan, tapi dia juga absen dari kepercayaan mahasiswanya.
Apa mahasiswanya gak pernah berpikir untuk belajar serius ya (kayak aku), apa mahasiswanya tidak pernah berpikir ya bagaimana menjadi mahasiswa teladan?
Ah.. uda setengah jalan aku di Ilkomp, tapi rasanya masih sedikit sekali yang aku dapatkan!!
[Reply]
December 27th, 2008 at 12:40 am
kuliah.. hanya untuk dapet ijasah!
…
persaingan yang membawa kita jadi belajar
komunitas yang mengajarkan dan memberitahu kita
…
kaw beritahu tuh dosen2 gabut ilkomp, biar pada baca postingan mu, btw ini omongbeneran ato omongkosong?
[Reply]
December 27th, 2008 at 6:05 am
bagus rip postinganmu, gak seomongkosong yang punya host…(ha ha ha peace-V)
saya ngrasanya malah kita terlalu minim diberi informasi dan aplikasi dari kuliah itu…terlalu garis besar dan ternyata saya hanya menyerap 10% masalah dari komputer, praktek aku cuma dapet 3% dan endingnya besok kalo dilepas kerja diperusahaan masih perlu training bla…bla…bla, tapi ternyata dilihat ma anak yang bukan ilkomp jadi agak keliatan pinter walau aplikasi saya nol…(realita kehidupan yang ternyata menyiksa saya, karena terkesan nggombal)
[Reply]
December 27th, 2008 at 12:14 pm
ya ya ya, seperti yang saya bilang semalam, ilmu saya dibentuk oleh komunitas, bukan oleh tatap-muka akademis.
jadi jangan berharap sama dosen yang kerjanya cuma mancing sama main badminton sampe menelantarkan jam kuliah mahasiswanya.
di ugm ini kita ga beli ilmu. kita beli komunitas
[Reply]
December 27th, 2008 at 1:01 pm
saya kecewa setelah masuk UGM… secara gue anak ilmu komputer… masak kampusnya g berbau IT sama sekali??? maksud saya… g sekeren kampus2 laen (kayak ITB)??? mana masih masuk jurusan metematika pula… huhuhuhuw… kalo gak da HIMAKOM, pasti aku bosen bangetlah di ilkomp!!! membosankan!!! dosen2nya ada c yg bagus… tp banak g bagusnya… ada yg mutungan, ada yg materi ndak jelas, ad yg jarang masuk. ad yg ngasi nilai random alias seenaknya, macem2lah!!!
[Reply]
December 27th, 2008 at 1:22 pm
@milham
Mengejar ketertinggalan? Bukannya yang kamu lakukan di Ilkomp itu mengejar akhwat2 ya ham?
@baobaz
Lah kan numpang di omongkosong.com
@ziezahworld
Zie.. yang punya host itu si ba***z loh, aku cuman numpang. Numpang nama omongkosong.com. He..he..
@setanmipaselatan
Iya, saya bayar mahal untuk bisa bersanding bersama teman2 saya yang pintar nan kritis2 itu. Kalo dosen mah.. biar pemerintah aja yang bayar mereka..
[Reply]
December 27th, 2008 at 1:25 pm
@yip
kayaknya nie bukan omong kosong deh…
Kapan aku pernah ngejar akhwat?? aku kan orangnya lugu, baik hati, tidak sombong, gemar menabung
:ada akhwat yang baca gak ya hehehe
Bukan gitu yip, kalo meang ngejar akhwat kenapa enggak ke psikologi aja, 90%nya akhwat. ini kebutuhan yip halah
:ngeles
[Reply]
December 27th, 2008 at 7:16 pm
ehm..ehm..
pengen no comment tapi gimana ya…
bukan cuma ilkomp aja kok gitu,,
kebanyakan prodi laen juga gitu
[Reply]
December 27th, 2008 at 10:22 pm
@baobaz => bener! “jer basuki mawa bea”
@hana => bantu saya mewujudkan impian saya bersama HIMAKOM
Yah, begitulah yib. Memang secara fasilitas kita kalah, tapi “Apa bisa tahan?” Maksudku, kita ndak boleh istilah orang Jawa “nelongso”, hanya meratapi nasib. Kita kudu kreatip menyingkapi hal tersebut. Dan di dunia kerja nanti (wduh, saya sendiri belum kerja :p) ilmu tentang IT saja ndak cukup, softskill juga harus digenjot.
[Reply]
January 2nd, 2009 at 12:13 pm
lha itu maksudku….ha ha ha
[Reply]
January 5th, 2009 at 3:04 pm
Kalau menurut penerawangan saya…eh pengalaman saya
dimana-mana kita kuliah pasti ada sisi negatifnya seperti diuraikan di atas. Mau kampus sekeren MIT juga kalo udah ada di dalamnya pasti melihat sisi kurangnya.
Yang penting bagaimana kita mengganti kekurangan itu dari sumber-sumber pengetahuan di luar kampus kiat sendiri.
Untungnya saya udah lulus dari Jogja
[Reply]
January 7th, 2009 at 3:06 am
Emang dl kmu tny apa y yip?
Lupa aQ..
Namanya jg ilkompt ugm..
G taw ni kpn brkembang..
Bth ksadaran dr smua pihak bt brubah..
Makanya pingin cepet2 lulus dr kampus trcinta..
Biar bs lngs terjun k dunia persaingan kerja yg nyata..
Tp koq qta g d bekali ma oknum2 dosen yg gak jlaz itu..
Bs makin gak jlaz Q dsini..
Fufufu..
[Reply]
January 7th, 2009 at 11:24 pm
kalo aku bilang sih, kalo km belum tahu caranya buat kuliah di Ilmu Komputer UGM.
Bener kata mas Joe. Kita ga beli ilmu. Kita beli komunitas. Dari komunitas itulah kita dapat ilmu.
Kita di sini juga bayar mahal buat sebuah nama. Ijazah yang ada tulisannya UGM bakal lebih laku daripada ada tulisannya “Coret bila perlu”.
[Reply]
January 9th, 2009 at 12:51 am
[...] memperkuat usaha sampingannya itu, dan demi keliatan bonafiditasnya sebagai seorang sarjana lulusan Ilmu Komputer UGM yang bosok dahsyat itu, Jejula sekalian mbikin situs berbentuk forum jual-beli barang bekas yang dikasih judul [...]
January 15th, 2009 at 4:17 pm
Maaf kawan Numpang Lewat.
Mungkin kawan2 bisa bantu saya sebarin info ini.Mendesak man… dikejar deadline.
Makasih yaa.
ASIA KAPITALINDO adalah penyedia jasa ONLINE TRADING Bursa Berjangka Jakarta (JFX). Kami membutuhkan IT staff untuk kantor cabang Yogyakarta
Persyaratan:
1. Pria max 27 tahun Single
2. Mahasiwa Teknik Informatika semester akhir
3. Mampu membangun&mengelola Web
4. Menguasai Network & Internet Marketing
5. Penampilan rapi & Menarik
6. Bisa bekerja dalam team, tekun & cekatan
Bawa lamaran & CV untuk WALK IN INTERVIEW paling lambat 19 Januari 2009 ke:
PT ASIA KAPITALINDO-GALERI INVESTASI MM UGM
Ged. MM UGM Lt.2 Ruang 204
Jl. Teknika Utara Barek
Yogyakarta.
[Reply]
January 15th, 2009 at 5:59 pm
Informasi yang menarik, terima kasih udah mau ngeshare disini..
Eh, her, Jangan lupa kaos tim kita. Bisa kamu liat di blognya mizan
[Reply]
January 23rd, 2009 at 9:26 am
Kena batu nya deh han.. CMS mu B yaw?? Ha,,ha,,
[Reply]
June 12th, 2009 at 4:18 pm
:nyesel: :putar2: :putar1: :nglamun:
[Reply]