Omongkosongmu..

*Sebuah cerita yang sangat panjang..

Jam 3.45. Tepat hari Sabtu, 24 Januari aku bepergian bersama Mizan. Keperluan saat itu, kami berdua mengantarkan desain kaos team bola Ilkomp 2006 untuk dimasukkan ke SELVAS konveksi. Inilah baju olahraga pertama di angkatan kami, semoga adanya kaos team ini bisa mempererat kembali rasa persatuan di angkatan kami. Sembari melihat beberapa koleksi rancangan jaket mereka, mizan juga memiliki keperluan untuk mencari desain dan bahan untuk rancangan jaket organisasi Omah TI nya.

Jam 5.17 WIB. Tidak berlama-lama kami disana, kami berencana kembali ke kost. Sayang seribu sayang, kami dihadang hujan deras di sekitar daerah Kridosono yang menyebabkan kami harus berteduh di sekitar gedung nganggur disana. Kita pilih salah satu tempat tersebut karena memang beberapa orang tampak turut berteduh dibawah deras nya hujan. Berteduh sekian lama menunggu agar hujan sedikit meredakan rintikannya agar kami pulang tidak terlalu basah kuyup.

Jam 5.45 WIB. Menunggu sambil berdiskusi banyak hal. Tentang kuliah lah, tentang hidup ngekost, tentang futsal, dan beberapa hal menarik jadi perbincangan diantara kami berdua. Sesaat kemudian, dari arah utara salah satu orang pria seumuran 30 tahun-an berjalan kea rah kami, nunut berteduh dari guyuran hujan. Sembari menghisap sebatang rokok djarum di tangannya dia menyapa kami dan meminta izin ikut nimbrung menunggu hujan di sebelah kami. Posisi nya saat itu, aku berada diatas motor menghadap mizan, mizan duduk menghadap motor, dan disamping pria tersebut masih tengah duduk bersandar mengebulkan asap dari mulutnya. Aku tidak terlalu perhitungkan siapa dia, karena kami masih asyik melanjutkan perbincangan berdua.

Jam 5.55 WIB. Perbincangan kami nampaknya menemui ujungnya. Sedikit jeda diantara kami untuk saling diam meringis melihat pemandangan di jalan. Mengapa hujan petang ini begitu deras? Nampak lewat kilatan cahaya dari lampu-lampu kendaraan yang menyinari jatuh nya bulir-bulir air ke aspal. Mungkin masih harus beberapa waktu lagi kami sabar menunggu agar awan hitam bisa mengurangi volume air yang dia tumpahkan ke daratan. Saat jeda itulah, pria asing di samping mizan memecah kebuntuan kami lewat suaranya. Dia membukanya dengan pertanyaan “Stasiun Lempuyangan tuh dimana?”. Aku jelas tahu jawabannya, karena Lempuyangan sudah sangat dekat dari tempat kami berteduh, tinggal menunjukkan arah selatan lewat tanganku, beberapa gerbong lawas pengangkut pupuk milik PJKA terlihat dari tempat kami berteduh. “Emang Bapak mw kemana?” , tanyaku. Dia bermaksud pulang ke Pasuruan menggunakan kereta Pertamina, duduk diantara gerbong-gerbong nya menuju ke kampung. Gratis soalnya, karena ga punya duit dia mencari gratisan dengan berniat numpang kereta Pertamina. Hm.. aku paham dia memang nampak tidak membawa apa-apa kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya. Namun, dia sangat khawatir, yakin bahwa setahu dia di Lempuyangan itu tidak bakal ada kereta Pertamina yang menuju arah Jawa Timur.

Pembicaraan panjang ini dimulai. Rupanya Bapak muda ini dengan topi di kepalanya, baju pressbody, celana panjang cokelat dan diakhiri sepatu hitam pantofel di ujung kakinya, bercerita bahwa dirinya baru saja berjalan dari Masjid Keraton Jogja. Loh kok bisa?? Ya iyalah, dia ga punya duit seperpun makanya dia harus jalan. Tapi dia juga bilang bahwasannya sempat di jalan naik angkutan bus yang tujuannya ke tempat kami berteduh, namun naas buatnya karena diturunkannya ia dijalan lantaran tidak punya uang alias ga boleh numpang oleh si kernet bis. Alhasil, dia berjalan dari tempat dia diturunkan hingga sampai disini, di tempat ia berteduh kini bersama kami.

Dia adalah seorang yang terjebak di Kota Yogyakarta tepat jam 3 pagi dini hari tadi. Kebetulan kereta yang ditumpangi nya berakhir di Kota Yogyakarta, dan untuk menunggu kereta selanjutnya ke arah Jawa Timur (Pasuruan, kampung tempat anak istri nya tinggal) dia mesti menunggu beberapa jam lagi. Selagi jeda menunggu, Bapak ini rupanya tidur-tiduran di mushola, istirahat sejenak melepas lelah katanya, ia gunakan tas kecil nya sebagai bantal tidurnya. Namun, dewi fortuna tidak berpihak kepada Beliau, karena saat dirinya terjaga, tas nya sudah tidak ada di tempat, raib begitu saja dari genggamannya. Maling kurang ajar betul , tidak bisa memilih korban yang sesuai untuk dijarah hartanya. Kawan mau tahu isi tas tersebut?? Uang Rp 1.4 juta, dan beberapa helai baju anak kecil untuk oleh-oleh anaknya di kampung yang baru saja lahir. Dia rindu untuk bertemu dengan sang Buah hati dan istri nya tercinta di Pasuruan.

Ceritanya makin panjang, diawali dengan rasa bingungnya luntang lantung di Stasiun Tugu, dia berinisiatif untuk melaporkan nya pada polisi, kasus yang menimpanya. Dia mencoba minta bantuan untuk bisa ditolong, memberinya ongkos pulang atau setidaknya di angkutnya dia ke kendaraan truk atau lainnya yang menuju arah tempat tinggalnya. Katanya, masalahnya tidak digubris oleh polisi tersebut secara serius, polisi tidak mengurusi hal-hal yang demikian, mana polisi tersebut tidak sedikitpun menyuguhnya air ataupun roti demi perutnya. Tidak tampak solidaritasnya sama sekali.

Pos polisi tidak berhasil, perjalanannya dilanjutkan ke Masjid Keraton Yogyakarta. Tanpa menjelaskan panjang lebar, dia juga mengeluhkan betapa tidak bersahabatnya takmir-takmir masjid Keraton Yogyakarta. Sedikitpun tidak ada bantuan yang ia terima. Malah juru parkir sekaligus petugas kebersihan situlah yang membantu dirinya. Memberinya sebungkus nasi dan air mineral. Baginya benar-benar kontras gejala yang terjadi di zaman ini. Yang seharusnya membantu malah hanya berdiam diri, eh.. yang ga punya malah rela berderma.
Ceritanya loncat ke Masjid Syuhada, masjid terbesar di Yogyakarta yang menurut data yang dia dapat bahwa jumlah sodaqoh dan infaknya telah mencapai nilai 57 juta dia datangi juga. Dipertemukannya dia dengan si Bos pengurus masjid, nyelonong karena dia takut malah ga dibolehin masuk yang akhirnya bisa berujung gagal pada misinya untuk meminta bantuan. Sekali lagi, yang ia dapat sama persis dengan yang terjadi di Masjid Keraton. Malah lebih parah. Sekaligus tidak ada bantuan yang bisa diberikan pihak masjid, dia malah merasa tidak diterima kedatangannya di masjid tersebut. Segala gerak-geriknya diawasi oleh penjaga disitu. Dia coba untuk duduk beristirahat duduk, dilihatin. Ketika dia mengambil air wudlu pun masih dilihatin. Dan ketika dia berusaha untuk tidur-tiduran dimasjid, malah diusir padahal dia sudah mencoba membela diri bahwa waktu sholat ashar masih lama dan tentu dengan dirinya tidur disitu tidak akan mengganggu bukan?

Kembali dengan kisah sedihnya, dia ceritakan bahwa ditengah keputusasaannya dia sempat ditolong oleh anak UIN (IAIN) di sekitar wilayah Maliboro. Kejadian itu setelah dia mendapat perlakuan tidak adil di Masjid Keraton Yogyakarta. Entah bagaimana pertemuan singkat itu terjadi, si mahasiswa UIN ini berniat mengajak dia untuk pergi meminta bantuan di Masjid Syuhada. Katanya di Masjid Syuhada, mahasiswa UIN ini memiliki teman yang siapa tahu bisa membantu dia. Namun karena masih ada kelas (kuliah), maka mahasiswa UIN ini izin untuk meninggalkannya sejenak untuk masuk kuliah terlebih dahulu. Dia disuruh menunggu di kawasan Maliboro tempat ia bertemu dengannya. Dan ajaibnya menurut dia, mahasiswa itu benar-benar datang menjemputnya. Suatu tindakan yang sungguh mulia dan membesarkan hatinya untuk kembali semangat mencari bantuan. Apalagi, melihat mahasiswa tersebut membawa 1 helm lagi buat dirinya. Dia sangat mengagumi ketulusan mahasiswa ini untuk membantu dirinya. Alhasil, dia berhasil sampai ke Masjid Syuhada yang akhirnya mendapatkan hal tidak adil seperti yang tadi ia ceritakan. Aku sedikit bergumam dan menanyakan “Lalu, apa yang mahasiswa UIN lakukan setelah itu?”. Dia berucap bahwa mahasiswa tersebut kembali mengantarkannya ke Masjid Keraton, dan meninggalkan dia disana. Akhirnya dari Masjid Keraton dia berjalan ke sini, ke tempat ia berteduh, ke tempat dia menceritakan keluh kesahnya pada kami. Bagi dia, masalah yang terjadi hari ini adalah masalah yang musti ia maknai, diambil hikmahnya.

Begitulah kisah bapak muda ini berkelana seharian. Sedih, sedu sedan, dan pilu mungkin yang dia rasakan. Namun tidak bagiku. Karena bagiku, kisahnya semu, penuh intrik, tidak nyata buat logika dan seyakin-yakinnya diriku aku tidak berharap untuk memberinya sepeserpun meski ia bercerita panjang lebar tentang kisah nya. Kecurigaanku untuk bapak itu tampak serasa nyata dipikiranku. Beberapa diantaranya :

  1. Ceritanya membuat kami merasa berada di bawah tekanan untuk membantunya. Wajib membantunya malah. Seolah-olah di akhir ceritanya, tidak ada bantuan lagi yang dapat ia harapkan kecuali dari pemberian yang bakal ia terima dari kami. Meski ia tidak secara langsung meminta bantuan dari kami, tapi aku mencurigai terhadap ceritanya yang menekan kami untuk harus membantu Beliau ini.
  2. Sebenarnya cerita yang diatas merupakan ringkasan dari pembicaraan kami. Yang asli lebih banyak dari itu. Sempat ia menceritakan betapa kerasnya hidup di Jakarta, dan hal-hal lain tentang kesedihan hidupnya. All about sadness. Pokoknya semakin banyak dia bercerita, semakin banyak pula kesedihan yang membuat kita berlebay-lebay dalam kesedihan.
  3. Entah bagaimana ditengah-tengah cerita, dia menceritakan tentang kebaikan seorang mahasiswa. “MAHASISWA” saudara-saudara! Saat bagian dia menceritakan tentang bagaimana mulianya hati mahasiswa tersebut, seolah kami jadi semakin tertekan sangat dalam untuk membantu, menyaingi tulusnya hati mahasiswa UIN tersebu dengan cara membantunya. Lalu hal lain adalah “Bagaimana mahasiswa UIN tersebut bisa diam saja terhadap oknum takmir Syuhada yang katanya telah mengusir Bapak muda ini dari keinginannya untuk tidur sejenak di altar masjid?? Bukannya mahasiswa UIN tersebut menemani Bapak muda ini ke Masjid Syuhada, memanggil temannya, hingga dihantarkan nya kembali ke Masjid Keraton karena ditolak?? Seharusnya dia turut kecipratan getah jahanamnya oknum takmir Masjid Syuhada tersebut donk?? Lalu apa yang mahasiswa lakukan untuk membela Bapak muda itu?? Katanya mahasiswa mulia, tulus membantu de el el??
  4. Ceritanya cukup tidak masuk akal bagiku tentang bagaimana perilaku oknum masjid/takmir masjid Keraton dan Syuhada. Seolah dia ingin menunjukkan pada kami bahwa justru orang-orang kecil, seperti tukang sapu atau penjaga parkir lebih peduli kepada dirinya. Soal ketidak ramahan para takmir masjid aku sangat memandang “itu aneh banget yaw”. Soalnya, aku belum pernah melihat oknum masjid yang sekejam itu. Tidak memberi bantuan sepeserpun buat kaum yang teraniaya. Apalagi ini di Yogyakarta, bukan Jakarta. Ibaratnya, masyarakatnya masih sangat solider terhadap kaum lainnya. Malah dulu aku pernah liat suatu kasus saat pertama masuk UGM, salah seorang teman PASCAL ku ada yang belum dapat kos, masih mencari tepatnya. Padahal ia butuh penginapan, dan cukup meminta izin takmir Masjid UGM untuk sementara tinggal dimasjid, dengan senang hati takmir memperbolehkan. Malah temanku ini disuruh menginap di kamar takmir sekaligus diberi makan, dan itu bertahan selama seminggu loh. Kontras sekali dengan cerita Bapak muda ini tentang kelakuan takmir di Masjid Keraton dan Syuhada. Ah, aneh bin ajaib.
  5. Lalu, aku juga berfikir kalo dia jalan dari Keraton Jogja ke tempat kita berteduh. Malah ia sempat naik bus namun sayang nya diturunkan di jalan gara-gara tidak punya ongkos. Artinya tidak sepeserpun uang ia miliki. Malang betul nasibnya. Tapi mendadak aku ingat kalau sebelumnya ia menghisap “sebatang ROKOK”, djarum super tepatnya. Wow.. Bash..bush..2x Dari mana dia dapatkan rokok tersebut?? Apakah ia menemukan “sebatang ROKOK Djarum” di jalan?? Lalu menemukan api untuk menyulutnya ditengah hujan deras begini??
  6. Dia bercerita tentang kesedihan yang berlarut-larut. Dia kehilangan duit 1.4 juta, Handphone (handphone kok ditaruh ditas, wajarnya diletakkan di saku celana), baju untuk oleh-oleh anaknya, rindu dengan sang istri, diperlakukan tidak adil oleh oknum polisi, oknum takmir masjid 2 kali, sangat lapar mungkin. Secara wajar, pastilah orang ini akan menangis jika ia disuruh menceritakan kembali proses kejadian menyedihkan yang sedang menimpa dirinya. Karena yang ia alami merupakan kejadian luar biasa. Tentu jiwa nya bakal terkoyak waktu ia menceritakan betapa menyakitkan melewati ini semua. Tapi dari matanya tidak ada sedikitpun linangan air mata. Menunjukan bahwa hal yang ia ceritakan adalah buah konspirasi otak dengan mulutnya.
  7. Yang paling kentara adalah saat aku memberinya advice untuk mencoba meyakinkan dia bahwa nanti pasti akan ada kereta Pertamina yang bisa ditumpangi gratis. Dia berkilah, bahwa dia sangat yakin bahwa kereta Pertamina itu tidak bakalan ada di Stasiun Lempuyangan. Wah, aku jelas meringis. Edan ki Bapak, bukannya dia sejak awal tujuan dari Keraton berjalan kaki menuju kemari untuk menuju Lempuyangan, untuk mencari kereta Pertamina untuk ditumpangi secara gratis???!!! Kok sekarang aku yang berusaha mempersilahkan Beliau melanjutkan perjalanannya ke Lempuyangan malah dibantah? Trus ngapain nyari-nyari stasiun Lempuyangan coba? Ah, aku jadi yakin, sejak awal dia berpura-pura mencari Lempuyangan, adalah agar dia dikasihani melihat dirinya harus berjibaku di sela-sela gerbong kereta Pertamina. Buktinya diakhir cerita dia malah ga yakin bakal ada kereta Pertamina yang melewati Stasiun Lempuyangan. Akhirnya aku kasih advice lagi cobalah untuk beranjak ke Masjid UGM, siapa tahu Bapak diperbolehkan menginap dan diberi bantuan disana. Sembari aku menceritakan kejadian yang dialami teman PASCAL ku. Apa jawab nya?? “Duh saya sudah capek berjalan lagi kesana?” Beh, ney orang ketimbang ga ada kejelasan mw nginep dimana, mending ke Masjid UGM, terus izin menginap disana kan beres. Benar-benar ga niat untuk dapet bantuan. Terus ngapain coba harus terus di tempat kita menunggu hujan seperti ini? Tebakanku sih, orang ini memang mw memojokkan aku dan mizan agar mengeluarkan statement, “baiklah saya bantu dengan uang”. Uang dikasih, terus dia berterima kasih dengan sangat seolah kami Dewa baginya. Aku dan mizan pun bisa puang dengan lega. Ah, tapi itu mimpi buat Anda.

Ah sudahlah, aku capek berurusan dengan dia/pria ini, emosi ku memuncak karena kami serasa ditahan oleh dia agar mengeluarkan sedikit uang kami untuk membantunya. Semakin membuat aku tidak respect terhadap dia. Adzan maghrib juga sudah berkumandang sedari tadi, membuatku terpaksa harus beranjak dari tempat itu meninggalkan dia untuk sholat tanpa sedikitpun peduli dengannya. Dia aja ga peduli untuk sholat maghrib dimana. Akhirnya dengan muka tembok ku dan tersenyum pada dia aku mengatakan “Maaf pak, mungkin kami ga bisa memberikan bantuan yang setimpal, tapi cobalah untuk melanjutkan ke Lempuyangan siapa tahu memang benar-benar pertolongan ada disana, dan ketika sholat berdoa banyak-banyak agar bantuan bisa secepatnya dikirim oleh Yang diatas..”.

Mungkin kaget yang dia terima, karena aku memang benar-benar berani untuk menolak memberi bantuan, meski sekitar 1 jam dia ceramah panjang lebar tentang susah payahnya hidup. Aku tetap tegar, karena merasa yang kulakukan benar, aku merasa dia terlalu banyak berdusta lewat ceritanya sehingga aku putuskan untuk tidak membantunya dalam hal apapun. Aku dan mizan segera beranjak dari tempat tersebut sembari diikuti beranjaknya pula kedua orang yang sejak awal juga menunggu hujan reda. Akhirnya, tertinggal dirinya di gedung sepi itu sendirian, untuk meratapi kesedihannya berdusta. Ah, yang penting aku cuman tidak membantu orang, bukannya membunuh orang.

NB: Liat disini, untuk sudut pandang yang berbeda dari seorang baobaz.

This entry was posted on Thursday, January 29th, 2009 at 10:30 pm and is filed under Life. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

18 Responses to “Omongkosongmu..”

  1. GiriYangMakinTampan Says:

    Huh.. Saya stuju yip dengan tindakanmu.. Emang agak aneh sih critanya., penuh intrik seperti sinetron gag jelas khas indonesia buanget.. tapi tetap saja saya mendukungmu atas tindakan yang kau lakukan.. Emang kalian berteduh dimana sih koq bisa bertemu orang kaya gitu?? Dan cuma bertiga kah kalian??

    [Reply]

  2. nona sheila Says:

    wah manteb lu yip :lol:
    makanya gw selalu bersikap dingin sama orang yang baru dikenal. gw mah paling benci ama tipe2 orang kek gitu, tukang bohong, melas2 kehidupan, bah. tapi bisa ngerokok! dan setahu gw emang bener, mana ada orang mesjid ngusir orang di mesjid.

    [Reply]

  3. nona sheila Says:

    oiya yip, ganti link blog dakuuuu! daku sudah pindaaaah

    blog.nonasheila.com

    sori2 saya tidak ikut klan omongkosong kalian :lol:

    [Reply]

  4. Mrti Says:

    Arip, salut gw mas sikap lo (hahaha geer) . Setujuuu gw ma sikap lo, sudah banyak bgt orang berbuat jahat pake trik kayak gitu, sori ya gak mempannnnn….

    [Reply]

  5. ziezahworld Says:

    soal hape ditas,saya malah menaruh hape ditas,yang kadang sampai kegencet buku-buku,dan malah aman disana daripada di saku celana or rok(pengalaman kecopetan di jalur 15,jadi ya…lumayanlah….pengalaman) :lol: tapi ceritanya emang rada-rada aneh…
    arip…ndengaren banget kowe nulis wakeh….
    btw,dpt salam dari tyas loh, kemarin baru aja ultah..

    [Reply]

  6. admin Says:

    Ya :roll: kalo bisa ketemu dengan orang tersebut mana kutahu gir, kita kan hanya sekedar mampir berteduh disana. :twisted:
    Sebenarnya ada 1 orang bapak dgn 2 anaknya (salah satu anak nya cantik meski masih kecil :grin: ). Trus satu orang ibu dengan satu orang anak. Total ada 7 orang. Cuman kan kita kan ga terlalu berdekatan. :razz:

    [Reply]

  7. viestinlove Says:

    seandainya itu benar gmn yip?? (ingin membuatmu merasa bersalah :lol: )
    tp km awas bgt ya yip,sampai tau rokokny merek djarum,,hehe.. tuntutan skenario?

    [Reply]

  8. admin Says:

    :twisted: Ya tuh orang, masak ga pake logika banget, oknum masjid ada yang setega itu. Padahal jelas-jelas dia lagi butuh bantuan gitu. Memang saat nya kita selalu waspada memilih mana yang musti kita bantu.

    [Reply]

  9. admin Says:

    :grin: Ternyata kamu juga mengalami hal yang sama dengan kami toh. Eh, memang kamu harus merasa salut dengan apa yang kuperbuat. :lol: :lol:

    [Reply]

  10. admin Says:

    Sony ericsson mu kan pancen bukan HP :mrgreen: , tapi modem :lol: . Jadi ga salah donk di masukkin tas..

    Oh iya, salam balik nggo dhe’e, ucapan selamat ultah dari ayip : “semoga semakin dewasa dan cepat mendapatkan kembali jodohnya. :grin:

    [Reply]

  11. admin Says:

    Ah, ga suka aku berandai-andai, kan jelas2 lum tentu terjadi, jadi ga usah di andai-andai. He..he.. :lol:
    Dari asap rokoknya aku merasakan nikmatnya sebatang DJARUM Super.. :oops:

    [Reply]

  12. ziezahworld Says:

    oi,sebelum hape SE yang tren di kelas ini,saya pake hape SE seri J,itu juga dimasukin tas,trus nokia 3350 bahulak,juga dulu saya masukin tas,rusaknya sih karena dibanting ibuku,hwe he he,biarin aje jadi modem yang penting mak nyos dibanding smart milikmu itu,udah sehat lho hapeku,
    Besok klo saya kerumahnya.kamu ndak minat lg neh?

    [Reply]

  13. milham Says:

    ironis memang yip…
    tapi begitulah hidup…
    Kalo aku punya rezeki lebih kadang aku ngasi…

    juga sedikit menasehati: Pak jangan bohong ya pak…

    y mudah2n sikapmu itu yang terbaik yip…

    Tapi aku punya cerita seru tentang rokok.. baca di blogku :twisted:

    [Reply]

  14. nona sheila Says:

    kamu ngerokok to yip?

    jangan de yip, kasian cewe mu, serasa mencium asbak ntar :mrgreen:

    [Reply]

  15. viestinlove Says:

    :lol: :lol:
    @sheila : nyium asbak?? :lol: perumpamaan yg bagus,, :lol:

    [Reply]

  16. ayip_eiger Says:

    @sheila
    Nyium asbak??
    Lah kalo beneran suami lu perokok, bukannya yang bakal nyium asbak tuh kamu?? :lol: :lol: :mrgreen:

    [Reply]

  17. hanna Says:

    ahaha…kalo kmu jd aku, entah apa yg bakal kmu lakuin. tiba2 digendoling nenek2 di tengah jalan (dpn milan) pas aku nyberang “mbak, saya ndak bs pulang ke surabaya, saya habis kecopetan” (pdhal dia bawa tas)…ya sudah, krn buru2 mau balik ke kampus, ya sudah, aku kasi aja duit 20rb…(1sti juga 20rb kalo ndak salah). lalu stlh itu aku br sadar, kok ada yg aneh yah??? tp apa yah??? apa coba???ah, entahlah, terserah mau dobohongin apa ndak…drdulu aku gampang ditipu…aku sih ikhlasin aja…nenek2 gt,,,kasian mukanya melas,,,kalo cowok kayak di ceritamu, mungkin aku lgsg kabr soale takut

    [Reply]

  18. ngoOot Says:

    hahaha… masa asbak rokok??!! wkwkwkwkw… tapi betul juga she, awas ntar kamu punya suami perokok jangan2! :p

    [Reply]

Leave a Reply